Prediksi tren kripto di 2020

Marcus Swanepoel
Kembali ke blog


lama baca 9 menit

Apa yang akan terjadi di dunia kripto di 2020? Tahun 2019 merupakan tahun yang menarik bagi dunia cryptocurrency. Selain inisiasi Libra oleh Facebook yang mendominasi topik di media, ada banyak perkembangan lain yang membahas langkah besar yang diambil pemerintah, startup, dan institusi global di industri cryptocurrency.

 

Kami telah mengamati perkembangan yang terjadi sepanjang tahun ini dan berikut adalah beberapa hal yang kami prediksi akan terjadi di tahun 2020.

 

Halving Bitcoin akan meningkatkan permintaan?

Halving Bitcoin merupakan momen dimana reward block dikurangi setengahnya. Halving (pemotongan) terjadi setiap 210.000 blok, kira-kira setiap empat tahun sekali. Tahun 2140 akan menjadi tahun ketika seluruh 21 juta Bitcoin akan berhasil ditambang. Siklus empat tahun ini akan menjadikan halving berikutnya diperkirakan terjadi pada bulan Mei 2020.

 

Reward blok akan berkurang dari 12.5 Bitcoin menjadi 6.25 Bitcoin karena halving ini. Para ahli meyakini bahwa halving akan berdampak pada meningkatnya permintaan karena jumlah supply (persediaan) yang berkurang. Selain itu, para penambang perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk menambang tiap Bitcoin karena tingkat kesulitan penambangan Bitcoin (Bitcoin mining) juga meningkat. Artinya, mereka harus menaikkan harga Bitcoin sebagai gantinya. Halving yang terjadi pada periode sebelumnya juga membuktikan kebenaran teori ini. Halving Bitcoin pada bulan Juli 2016 mendorong kenaikan harga Bitcoin secara besar-besaran di tahun 2017.

 

Sejak itu, teknologi Bitcoin terus berkembang dan semakin diminati. Jumlah pemain di industri keuangan tradisional dan beberapa perusahaan teknologi dunia yang tertarik dengan Bitcoin kian bertambah banyak. Hal ini menyebabkan Halving Bitcoin menjadi makin tidak dapat diprediksi. Tidak ada jaminan bahwa akan ada lonjakan harga (bullish) seperti yang terjadi di tahun 2017.

 

Halving ini bisa berdampak pada hal lainnya. Jika terjadi lonjakan besar lagi, akankah kita kembali melihat musim munculnya altcoin-altcoin baru?  Atau, akankah kita melihat kenaikan performa altcoin yang ada saat ini? Bagaimana pengaruh halving ini terhadap crypto utama seperti Bitcoin, Ethereum dan Ripple? Akankah kita melihat crypto saingan yang baru?

 

Meningkatnya adopsi pihak ritel

Selama ini banyak negara kehilangan potensi keuntungan dari Bitcoin dan cryptocurrency lainnya karena minimnya kesempatan. Di tahun 2019, kami melihat perubahan signifikan dengan adanya perusahaan baru seperti Flexa yang memperkenalkan fasilitas pembayaran kripto yang lebih fleksibel untuk pebisnis ritel. Selain itu, ada beragam jenis usaha ritel baik besar maupun kecil yang akan mengintegrasikan layanan mereka, seperti Whole Foods Market, Office Depot dan Nordstrom.

 

Di tahun 2020, kami memperkirakan bahwa tren ini akan terus berlanjut. Starbucks, misalnya, telah mengumumkan bahwa mereka akan terintegrasi dengan Bakkt, layanan pembayaran kripto di semester pertama tahun 2020. Dengan realita bahwa Starbucks memiliki lebih dari 30,000 gerai di seluruh dunia, akankah integrasi Bitcoin yang dilakukan oleh pemain besar seperti Starbucks memotivasi usaha ritel lainnya untuk melakukan hal serupa?

 

Pasar keuangan tradisional menambahkan kripto sebagai pilihan investasi 

Jumlah perusahaan fintech pesaing bank meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Mereka bergerak cepat, bekerja dengan pola pikir digital, dan mereka tahu apa yang diinginkan masyarakat. Banyak dari perusahaan ini mulai menawarkan kripto sebagai salah satu aset, seperti yang dilakukan oleh Revolut sejak tahun 2017. Akankah 2020 menjadi tahun dimana lebih banyak perusahaan pasar keuangan tradisional mengejar ketertinggalan mereka?

 

Dunia perbankan kini bergerak makin cepat, dan kebutuhan untuk selalu berinovasi dan menunjukkan keunggulan dari kompetitor merupakan hal yang penting. Bank selalu mencari cara menambah arus pendapatan mereka. Melihat faktor-faktor tersebut dan juga permintaan kripto sebagai produk investasi, kita akan mulai melihat lebih banyak bank dan pemain industri keuangan tradisional yang menawarkan kripto sebagai peluang investasi kepada para pelanggan mereka.

 

Permintaan terhadap kripto yang begitu tinggi di antara generasi milenial (usia 25-39 tahun) tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi bank. Perusahaan manajemen investasi, Charles Schwab, baru-baru ini melaporkan bahwa di kuartal ketiga tahun ini, milenial lebih banyak berinvestasi di Bitcoin daripada di saham-saham perusahaan seperti Disney atau Netflix. 

 

Percepatan upaya regulasi...

Dengan pesatnya perkembangan industri kripto, para regulator di seluruh dunia tengah berupaya mempercepat pembuatan regulasi. Hal ini terlihat jelas sepanjang tahun 2019, kemungkinan besar salah satunya diakibatkan oleh proyek Libra milik Facebook.

 

Kami melihat tren ini terus berlanjut di tahun 2020. Kita akan melihat beberapa aturan yang telah dibuat akan berlaku di tahun depan. Bulan Oktober lalu, negara-negara anggota G7 telah menyatakan perlunya aturan untuk stablecoin, yang artinya akan ada aturan atau undang-undang yang dikeluarkan tahun depan. Jepang bahkan telah mengesahkan undang-undang pada bulan Mei lalu untuk memperkuat hukum mengenai cryptocurrency yang sudah ada. Aturan tersebut akan mulai berlaku pada bulan April tahun depan.

 

Salah satu upaya regulasi yang perlu dicermati tahun depan adalah Arahan Anti Pencucian Uang ke-5 oleh Uni Eropa (5th Anti-Money Laundering Directive / 5AMLD). 5AMLD akan mewajibkan perusahaan yang menyediakan layanan jual beli aset kripto untuk mendaftarkan diri pada regulator keuangan nasional. Selain itu, disebutkan juga persyaratan minimum bagi proses AML, sama seperti yang berlaku pada produk aset tradisional biasanya.

 

Dampak bagaimana regulasi-regulasi ini akan mempengaruhi industri kripto di tahun 2020 sangatlah sulit untuk diprediksi. Namun yang pasti, praktik regulasi yang baik akan menjadi contoh yang bisa ditiru oleh negara-negara lain.

 

Negara-negara berkembang yang kini memimpin

Menariknya, negara berkembang seperti Malaysia-lah yang tengah memimpin berjalannya regulasi kripto - tren yang kami prediksi akan terus berlanjut di tahun 2020.

 

Dalam beberapa hal, tren ini banyak kita temui di berbagai teknologi keuangan dan bank tradisional. Kebutuhan inovasi dan diferensiasi dari pemain dunia keuangan yang lebih mapan akan mendorong kebutuhan pola pikir yang lebih progresif. Sistem keuangan yang relatif lebih muda memberikan keuntungan tersebut, dalam artian, mereka lebih tidak terikat dengan ide-ide dan cara kerja lama yang telah ada.

 

Tahun ini, Bank Sentral Afrika Selatan (South African Reserve Bank / SARB) telah mengambil langkah maju dalam hal regulasi cryptocurrency - terutama untuk mengurangi penggunaan secara ilegal. Pengajuan kebijakan kripto baru kemungkinan akan diumumkan pada kuartal pertama tahun 2020.

 

Sementara itu Komisi Sekuritas (Securities Commission) di Malaysia kini telah menyetujui tiga perusahaan untuk bisa berdiri dan mengoperasikan perdagangan aset digital - termasuk Luno. Mereka telah mengambil langkah proaktif dan cerdas dalam mengatur cryptocurrency dan teknologi blockchain yang tentunya akan mendatangkan sejumlah besar inovasi baru di tahun yang akan datang. Kesuksesan mereka dapat berdampak positif bagi negara lain di sekitarnya. 

Akankah Libra diluncurkan (dengan sukses)?

Berita utama cryptocurrency di tahun 2019 didominasi oleh satu nama - Facebook. Atau lebih tepatnya, Libra.

 

Proyek Libra telah menarik banyak perhatian pemerintah di seluruh dunia. Para pembuat kebijakan silih berganti mencecar CEO Facebook Mark Zuckerberg dan CEO Libra David Marcus. Meskipun banyak diserang, proyek tersebut tetap bertahan. Pada bulan Oktober, 21 organisasi telah secara sah menandatangani piagam Asosiasi Libra pada pertemuan peresmian proyek Libra di Jenewa. Andreesen Horowitz, Vodafone, Uber dan PayU adalah beberapa nama besar yang ikut bergabung.

 

Proyek ini terus berkembang pesat. Ada 40 dompet, alat, block explorers, dan juga 1,700 GitHub commit yang dibangun dalam jaringan percobaan blockchain tersebut. Jaringan percobaan ini juga telah menjalankan 51,000 transaksi percobaan dalam dua bulan terakhir dan akan meluncurkan jaringan utamanya sesuai perkiraan di tahun 2020 - setelah semua urusan perizinan selesai.

 

Dengan rencana Libra untuk menambahkan 80 anggota lagi dalam proyeknya, potensi dampaknya sangatlah luar biasa. Pertanyaannya sekarang adalah soal waktu, bukan lagi tentang apakah proyek ini mungkin diluncurkan. Dan kami akan terus mengamatinya..

 

Asia mulai terbuka terhadap kripto

Malaysia telah menyambut kembali hadirnya beberapa perusahaan kripto (seperti Luno), sementara Korea Selatan dan Thailand juga mulai menerapkan peraturan baru yang akan bermanfaat bagi kemajuan kripto.

 

Akan tetapi, Tiongkok yang mendominasi pemberitaan, dimana pemerintahnya mulai terbuka pada ide teknologi blockchain. Presiden Xi mengatakan dalam pidatonya bahwa “Kita harus menjadikan blockchain sebagai terobosan penting bagi inovasi independen untuk dasar atau inti dari suatu teknologi.” Badan sensor Tiongkok mulai menghapus postingan online yang menyatakan bahwa teknologi blockchain adalah penipuan dan mulai mengizinkan postingan yang sifatnya mempromosikan teknologi blockchain. Dengan adanya rumor bahwa negara tersebut sedang berencana memperkenalkan mata uang digitalnya sendiri, Tiongkok akan membuat langkah-langkah besar dalam dunia kripto di tahun 2020.

 

Negara besar lain yang bersikap lebih waspada adalah India. Akan tetapi, mereka kini mulai melihat keuntungan yang ditawarkan teknologi blockchain. Pada bulan November, menteri bidang elektronik dan teknologi informasi pemerintah India, Sanjay Dhotre, menyatakan bahwa “Kerangka Kerja Blockchain tingkat nasional sedang dipersiapkan” karena menyadari potensi penggunaan teknologi ini. Dhotre menambahkan bahwa blockchain merupakan “salah satu area riset yang penting”, dengan potensi penerapannya di berbagai bidang seperti pemerintahan, perbankan, keuangan dan keamanan dunia maya.

 

Pada bulan April 2019, Bank Sentral India (Reserve Bank of India / RBI) melakukan penindakan tegas perdagangan dan pembelian cryptocurrency seperti Bitcoin di wilayah pemerintahannya. Deputi Gubernur RBI, Bibhu Kanungo, menyatakan bahwa seluruh entitas yang diatur oleh RBI akan "menghentikan segala hubungan bisnis dengan entitas yang berkaitan dengan mata uang virtual dan memutuskan segala bentuk hubungan dalam jangka waktu tiga bulan."

 

Apakah aturan ini akan berakhir? Akankah hal ini mendorong pemain lain di tahun depan? Apakah ini merupakan indikasi perubahan sikap negara India?

 

Apakah ICO akan melejit atau menurun?

Ledakan ICO di tahun 2017 menyebabkan banyak startup dari berbagai skala bisnis meraih untung besar. Akan tetapi, jumlah startup yang dalam posisi sehat secara finansial menyusut dengan cepat. Dunia cryptocurrency kini bagaikan pemakaman bagi ide-ide dan proposal hebat. Banyak yang tertunda dan kecewa di tahun 2019.

 

Salah satu yang tertunda, Filecoin (salah satu dari lima ICO terbesar tahun 2017) yang ditargetkan meluncurkan jaringan percobaan mereka pada musim semi 2019, dan jaringan utama mereka di akhir tahun ini. Namun, peluncuran ini diundur ke kuartal pertama tahun depan. Hdac, salah satu dari lima ICO terbesar di tahun 2017 lainnya juga menunda peluncurannya ke tahun depan. Salah satu anggota lima besar lainnya, Sirin Labs berhasil melakukan peluncuran di tahun ini, namun mereka terpaksa merumahkan 25% karyawan mereka karena hasil penjualan smartphone Finney yang mengecewakan.

 

Akan tetapi, saat ini Telegram tengah menjadi sorotan. Platform aplikasi pesan tersebut tampaknya akan menepati janji mereka di tahun 2018 untuk meluncurkan ICO mereka yang bernilai $1.7 miliar. Proyek ini bisa dikatakan sebagai proyek ICO paling menarik dan tentunya, paling ambisius. Meskipun Telegram terbentur oleh hambatan regulasi dan bahkan kini tengah dalam pemeriksaan SEC, mereka dijadwalkan akan tetap launching tahun depan.

 

Kita berharap Telegram, Filecoin dan Hdac akan diluncurkan dengan sukses dan sesuai rencana di tahun depan. Bagi perusahaan dengan modal yang lebih kecil dan belum meluncurkan ICO, tahun 2020 akan menjadi tahun penentuan. Blockchain masih berada di tahap teknologi yang sangat awal, dan kehidupan dunia startup sangatlah keras, dengan taruhan hidup dan mati.

 

Selama dua tahun terakhir ini, seharusnya banyak pelajaran dan kerja keras yang dilakukan agar proyek-proyek tersebut dapat diluncurkan sesuai dengan yang mereka janjikan sejak awal.  Proyek yang secara matang mempersiapkan ICO mereka, kemungkinan besar akan berhasil. Sedangkan bagi proyek yang belum melakukan hal ini, tahun depan bisa menjadi akhir bagi mereka. Sebelumnya, kami telah mendengar banyak pakar yang menyatakan bahwa akhir untuk ICO sudah dekat, tetapi akankah 2020 menjadi tahun terakhir bagi ICO? Ataukah akan ada perusahaan yang sukses besar sehingga menjadi katalis bagi perusahaan lainnya?

 

Apakah ini akhir privacy coin - atau awal baru untuk mereka?

Perhatian publik makin tertuju pada keanoniman jaringan online, apalagi setelah banyaknya skandal yang berkaitan dengan penggunaan data yang seharusnya bersifat pribadi dalam beberapa tahun belakangan. Cambridge Analytica menyingkap bahwa orang-orang yang dulunya dengan leluasa menyebarkan rincian pribadi mereka di internet kini menyadari bahwa ini bukanlah langkah yang bijak.

 

Hal ini pun berdampak pada dunia kripto. Pembicaraan tentang privacy coin tumbuh pesat sepanjang tahun 2019, sebut saja Monero, Zcash, dan Dash yang menjadi berita utama. Bahkan Litecoin menjadi bahan perbincangan karena rencananya untuk mengintegrasikan protokol privasi, Mimblewimble.

 

Popularitas yang terus berkembang ini menarik perhatian para pembuat kebijakan. Jika di tahun 2019 perhatian utama para pembuat kebijakan ini ada pada stablecoin, maka tahun 2020 perhatian utama mereka akan tertuju pada privacy coin. Privacy coin merupakan konsep yang cukup rumit bagi pemerintah, oleh karena tingkat anonimitasnya yang sulit diterima oleh banyak pihak. Cryptocurrency semacam itu bisa mengaburkan transaksi sehingga akan sulit bagi lembaga pertukaran dan kustodian untuk mematuhi panduan internasional baru yang bertujuan mencegah pendanaan gelap. Kami telah mengamati beberapa pertukaran seperti BitBay dan Coinbase berhenti menyediakan privacy coin di beberapa wilayah agar bisa menyesuaikan dengan kebijakan lokal dan 5AMLD yang akan diterapkan tahun depan. Fenomena semacam ini bisa melejit dengan cepat.

 

Jika privacy coin dapat melewati periode regulasi yang pelik ini, apakah ini berarti masa depan yang cerah? Dan akankah coin lainnya, seperti Litecoin, akan benar-benar mengintegrasikan protokol privasi?

 

Akankah Ethereum 2.0 memberikan dorongan bagi sistem keuangan yang terdesentralisasi?

Ethereum 2.0 dengan nama Berlin, akan diluncurkan tahun depan. Dibangun sebagai peningkatan jaringan Ethereum terakhir yang dirancang untuk menggeser konsensus algoritma proof-of-work menjadi proof-of-stake, Berlin memindahkan fungsi validasi block dari penambang ke validator jaringan khusus. Tahap pertama transisi Ethereum menjadi Ethereum 2.0 direncanakan berlangsung pada tanggal 3 Januari 2020.

 

Ethereum merupakan rumah bagi lebih dari separuh koin alternatif, dan telah mengalami banyak perubahan sejak peluncurannya di tahun 2016. Mereka telah menerapkan strategi baru dan menciptakan kemungkinan baru bagi para penggunanya, dari aplikasi terdesentralisasi (decentralised applications / dApps) hingga smart contracts. Keuntungan dalam skalabilitas dan kecepatan transaksi dari pembaruan Ethereum digadang-gadang akan mendorong kemajuan yang lebih besar bagi dunia kripto.

 

Decentralised Finance (DeFi) secara khusus akan menjadi pihak yang diuntungkan. Subsektor ini telah membukukan keuntungan di tahun 2019, dan telah tumbuh menjadi sebuah ekosistem bernilai $600 juta. Ethereum 2.0 dapat mendorong terbentuknya model keuangan yang baru dan menarik sebagai tempat melakukan dan memberikan pinjaman, serta mekanisme pertaruhan dan insentif baru yang dapat membentuk proyek-proyek DeFi baru dan mengembangkan proyek yang sudah ada. Pembaruan ini sangat dinantikan dan ditunggu oleh banyak pihak dalam komunitas. Namun akankah dampaknya sesuai dengan yang diharapkan?

 

Investor institusional akan mulai bergabung

Di tahun 2020, kita akan melihat para investor institusional - dari bank, pengelola aset, pengelola dana pensiun, badan amal, dsb. - menunjukkan lebih banyak ketertarikan pada cryptocurrency, atau paling tidak kepada Bitcoin. Mereka yang selalu mencari cara melakukan diversifikasi portofolio pada akhirnya akan menemukan mesin profesional untuk melakukannya bagi mereka.

 

Bakkt merupakan contoh yang paling terkenal. Mereka memulai perlahan dengan meluncurkan platform pertukaran Bitcoin mereka di bulan September. Sejak itu, mereka telah mengalami keuntungan yang stabil, bahkan mencatat rekor dengan mempertukarkan sebanyak 2,469 kontrak berjangka pada tanggal 22 November. Pertumbuhan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2020, dan berpotensi menginspirasi munculnya proyek-proyek serupa dan pesaing yang menawarkan produk yang serupa. Hal ini akan menambah variasi pilihan bagi para investor dan trader institusional.

 

Brave browser mengubah model periklanan bagi raksasa web

Iklan merupakan bahan bakar internet modern, memberikan ruang bagi situs web dan kreativitas digital untuk menguangkan konten mereka tanpa mengenakan biaya pada penggunanya. Akan tetapi, pelacakan iklan menimbulkan dampak negatif bagi pengalaman dan privasi pengguna. Permasalahan inilah yang berusaha diselesaikan oleh banyak startup kripto - dan di tahun 2020 bidang ini akan makin menjamur.

 

Salah satu startup kripto yang mencoba menjadi solusi permasalahan ini adalah Brave browser yang sangat berfokus pada privasi penggunanya. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa pengguna memiliki kendali atas data pribadi mereka. Para pengguna juga memperoleh pembayaran dari token BAT milik perusahaan ketika menonton iklan. Hal ini tidak hanya menguntungkan konsumen, tetapi juga para pemasar yang melihat jumlah klik dari iklan mereka.

 

Brave mencapai 8 juta pengguna pada tahun 2019. Dengan popularitasnya yang meningkat pesat, akankah kita melihat fitur-fitur unggulan mereka diadopsi oleh mesin pencarian besar lain, seperti Google dan Yahoo?

 

Dan… berapa kali Bitcoin akan mati di tahun ini?

Menurut Obituari Bitcoin dari 99bitcoins, yang mendokumentasikan setiap kemunculan publikasi besar-besaran tentang ‘kematian’ Bitcoin atau kripto lainnya, Bitcoin telah dinyatakan ‘mati’ sebanyak 378 kali sejak tahun 2010! Namun kenyataannya, Bitcoin masih hidup dan digunakan banyak orang.

 

Bagaimana dengan tahun 2020? Kami membuat perkiraan konservatif bahwa akan ada 15 pemberitaan tentang kematian Bitcoin di tahun 2020.

 

Menurut Anda, apa yang akan terjadi di tahun 2020? Apakah prediksi kami akan terjadi? Akankah si kembar Winklevoss melanjutkan misi mereka untuk membeli seluruh startup kripto yang dijalankan oleh si kembar identik? Akankah STO meledak di pasaran? Akankah Justin Sun akhirnya mengajak Warren Buffet makan siang?

 

Sampaikan pendapat Anda melalui Facebook atau Instagram kami.

Avatar Marcus Swanepoel
Penulis

Marcus Swanepoel

Marcus is the co-founder and CEO of Luno. Previously, he worked for Standard Chartered in Singapore and before that 3i and Morgan Stanley in London. He holds an MBA from INSEAD, is a qualified Chartered Accountant and a CFA charterholder. He is a South African citizen and a Singapore Permanent Resident.

Jangan sampai ketinggalan!

Beli, simpan, dan belajar Bitcoin dan Ethereum sekarang

Desktop Icon Apple App Store Logo Google Play Store Logo