NFT atau non-fungible token adalah token di jaringan blockchain yang merepresentasikan kepemilikan atau bukti keterkaitan terhadap suatu aset atau item unik secara digital. Berbeda dari aset kripto fungible, misalnya Bitcoin, setiap NFT memiliki identitas dan metadata tersendiri sehingga tidak dapat ditukar satu banding satu dengan token lain.
NFT sempat menjadi perbincangan luas ketika sejumlah karya seni digital terjual dengan harga tinggi. Setelah euforia mereda, banyak orang mulai bertanya apakah NFT masih relevan dan bagaimana sebenarnya teknologi ini bekerja. Bagi investor kripto pemula maupun yang sudah berpengalaman, pemahaman tentang cara kerja, fungsi, dan risiko NFT menjadi bekal penting sebelum memutuskan untuk terlibat.
Apa Itu NFT?
Secara sederhana, NFT dapat dipahami sebagai sertifikat kepemilikan digital yang tercatat di blockchain dan terhubung dengan satu item tertentu, misalnya karya seni digital, item dalam game, atau tiket acara. Istilah non-fungible berarti token tersebut tidak dapat dipertukarkan secara setara dengan token lain karena setiap token memiliki karakteristik yang berbeda.
Lawan dari non-fungible adalah fungible, yaitu sifat aset yang setiap unitnya setara dan dapat saling menggantikan. Bitcoin termasuk aset fungible karena 1 BTC selalu bernilai sama dengan 1 BTC lainnya, siapa pun pemiliknya. NFT bekerja dengan logika yang berlawanan. Setiap NFT membawa nomor identitas dan metadata yang membuatnya unik, sehingga dua NFT dari koleksi yang sama pun bisa memiliki nilai yang jauh berbeda.
Standar teknis NFT kripto mulai terbentuk melalui ERC-721 di jaringan Ethereum. Standar ini diusulkan pada Januari 2018 oleh William Entriken, Dieter Shirley, Jacob Evans, dan Nastassia Sachs sebagai aturan baku untuk menerbitkan dan mengelola token unik melalui smart contract. Dalam dokumentasi resmi Ethereum, setiap NFT memiliki token ID, dan kombinasi contract address dengan token ID tersebut harus unik secara global. Kini NFT juga dapat diterbitkan di berbagai jaringan blockchain lain dengan standar teknisnya masing-masing.
Bagaimana Cara Kerja NFT?
NFT bekerja melalui smart contract, yaitu program di blockchain yang mengatur penciptaan, pencatatan kepemilikan, dan perpindahan token. Ketika NFT dibuat, smart contract memberikan nomor identitas unik (token ID) dan menautkannya dengan metadata. Seluruh riwayat kepemilikan tercatat secara publik dan dapat ditelusuri di blockchain.
Agar gambaran prosesnya lebih utuh, alur kerja NFT dapat dirangkum dalam lima tahap berikut.
Kreator menyiapkan item digital beserta metadata, seperti nama, deskripsi, dan tautan ke file karya.
Kreator melakukan minting, yaitu proses penciptaan token melalui smart contract.
Smart contract menerbitkan token ID unik dan mencatat alamat wallet pemilik pertama.
Token tersimpan di wallet pemilik dan dapat dilihat oleh siapa pun yang memeriksa blockchain.
Setiap kali NFT dijual atau dipindahkan, transaksi baru tercatat sehingga riwayat kepemilikan terus bertambah.
Minting dan Smart Contract
Minting menandai lahirnya sebuah NFT di blockchain. Pada tahap inilah token ID, metadata, dan alamat pemilik pertama tercatat secara permanen. Proses minting umumnya memerlukan gas fee, yaitu biaya jaringan yang dibayar menggunakan native token dari jaringan tersebut, misalnya ETH di jaringan Ethereum.
Anggapan bahwa NFT sama dengan file gambar merupakan salah satu kekeliruan yang paling sering muncul. Pada praktiknya, file karya umumnya disimpan di luar blockchain (off-chain), misalnya di server atau sistem penyimpanan terdesentralisasi. NFT hanya menyimpan tautan yang mengarah ke file tersebut. Pemilik NFT memegang catatan kepemilikan token, sementara file karyanya tetap dapat dilihat atau bahkan disalin oleh orang lain.
Apa Fungsi NFT?
NFT berfungsi sebagai bukti kepemilikan atau akses digital yang dapat diverifikasi. Penggunaannya mencakup koleksi digital, item dalam game, keanggotaan komunitas, tiket acara, hingga sertifikat dan identitas digital. Meski begitu, tidak semua NFT memiliki utilitas nyata, karena sebagian hanya bernilai sebagai barang koleksi.
Berikut beberapa contoh pemanfaatan NFT yang paling sering ditemui.
Koleksi digital. Karya seni, foto, atau musik yang diterbitkan dalam jumlah terbatas, dengan riwayat kepemilikan yang dapat ditelusuri.
Game berbasis blockchain. Karakter, senjata, atau lahan virtual yang dapat dipindahkan atau dijual pemainnya di luar game.
Keanggotaan dan akses. NFT dapat menjadi kunci masuk ke komunitas, konten eksklusif, atau layanan tertentu.
Tiket acara. Setiap tiket memiliki identitas unik sehingga lebih mudah diverifikasi dan sulit dipalsukan.
Identitas dan sertifikat. Contohnya nama domain di blockchain seperti Ethereum Name Service, atau sertifikat kelulusan dan pelatihan dalam bentuk digital.
Laporan bersama Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat (USPTO) serta Kantor Hak Cipta Amerika Serikat (USCO) turut memetakan pemanfaatan tersebut. Laporan itu menyebut penjualan karya seni digital, tiket acara eksklusif, dan autentikasi barang mewah sebagai contoh penggunaan NFT saat ini maupun di masa depan. Nilai fungsional sebuah NFT tetap bergantung pada proyek, penerbit, dan ekosistem yang mendukungnya.
Apa Perbedaan NFT dan Aset Kripto seperti Bitcoin?
Perbedaan utama NFT dan aset kripto seperti Bitcoin terletak pada sifat pertukarannya. Bitcoin bersifat fungible, sehingga setiap unitnya setara dan dapat dipecah menjadi satuan kecil. NFT bersifat non-fungible, sehingga setiap token unik, umumnya tidak dapat dipecah, dan nilainya ditentukan oleh karakteristik masing-masing token.
Perbedaan Fungible dan Non-Fungible
Analogi paling sederhana adalah perbandingan antara uang pecahan dan tiket konser dengan nomor kursi. Dua lembar uang Rp50.000 dapat saling dipertukarkan tanpa ada yang dirugikan. Tiket konser memiliki logika lain, karena tiket kursi baris depan tidak setara dengan tiket kursi baris belakang meskipun keduanya berasal dari konser yang sama. NFT bekerja seperti tiket bernomor kursi, sedangkan aset kripto fungible bekerja seperti uang pecahan.
Secara ringkas, perbedaan keduanya dapat dilihat pada tabel berikut.
Aspek | Aset Kripto Fungible (misalnya Bitcoin) | NFT |
Sifat pertukaran | Setiap unit setara dan dapat dipertukarkan | Setiap token unik dan tidak setara |
Pembagian unit | Dapat dipecah menjadi satuan kecil | Umumnya tidak dapat dipecah |
Penentu nilai | Penawaran dan permintaan pasar secara umum | Kelangkaan, karya, utilitas, dan persepsi kolektor |
Fungsi utama | Investasi, transfer nilai, biaya jaringan | Bukti kepemilikan item, akses, atau koleksi |
Likuiditas | Relatif tinggi pada aset kripto berkapitalisasi besar | Cenderung rendah dan bergantung pada minat pembeli |
Contoh standar | Native token jaringan atau ERC-20 | ERC-721 dan standar sejenis |
Bagaimana NFT Dibeli dan Dijual?
NFT umumnya diperjualbelikan melalui marketplace NFT yang terhubung dengan wallet digital pengguna. Pembeli membayar dengan aset kripto sesuai jaringan NFT tersebut, ditambah biaya jaringan. Setelah transaksi selesai, smart contract memindahkan token ke wallet pembeli dan mencatat perubahan kepemilikan di blockchain.
Secara konseptual, proses jual beli NFT melibatkan beberapa komponen. Pertama, pengguna memerlukan wallet yang mendukung jaringan tempat NFT diterbitkan. Kedua, marketplace berperan sebagai etalase tempat penjual membuat listing, yaitu menawarkan NFT dengan harga tetap atau melalui lelang. Ketiga, setiap transaksi dikenai biaya jaringan yang besarnya berubah sesuai kepadatan jaringan. Sebagian koleksi juga menetapkan royalti bagi kreator pada setiap penjualan ulang, meskipun penerapannya bergantung pada kebijakan masing-masing marketplace.
Skenario yang kerap dialami pengguna baru adalah membeli NFT di jaringan yang berbeda dari aset kripto yang dimilikinya, sehingga transaksi gagal atau biaya membengkak. Pemeriksaan jaringan, total biaya, dan keaslian koleksi sebelum bertransaksi merupakan langkah dasar yang tidak boleh dilewatkan.
Apa Risiko NFT?
Risiko NFT mencakup volatilitas harga yang tinggi, likuiditas rendah, penipuan dan phishing, celah pada smart contract, ketergantungan pada penyimpanan metadata di luar blockchain, serta valuasi yang sangat subjektif. Selain itu, kepemilikan NFT tidak otomatis memberikan hak cipta atas karya yang terkait dengannya.
Berikut rincian risiko yang perlu dipahami sebelum terlibat di pasar NFT.
Volatilitas tinggi. Harga NFT dapat naik dan turun drastis dalam waktu singkat, mengikuti tren dan sentimen pasar.
Likuiditas rendah. NFT yang tidak lagi diminati bisa sulit dijual, bahkan dengan harga jauh di bawah harga beli.
Penipuan dan phishing. Modus yang sering muncul meliputi koleksi palsu, situs tiruan, dan tautan yang meminta akses ke wallet.
Risiko smart contract. Celah pada kode dapat dieksploitasi sehingga token hilang atau berpindah tanpa izin.
Ketergantungan metadata off-chain. Jika server penyimpan file berhenti beroperasi, NFT tetap ada, tetapi tautan ke karyanya bisa rusak.
Valuasi subjektif. Nilai NFT banyak ditentukan oleh persepsi kolektor, sehingga tidak ada patokan harga yang baku.
Memiliki NFT Tidak Selalu Berarti Memiliki Hak Cipta
Membeli NFT berarti memiliki token yang tercatat di blockchain, tetapi belum tentu memiliki hak kekayaan intelektual atas karya yang terhubung dengan token tersebut. Hak yang diperoleh pembeli bergantung pada lisensi yang ditetapkan kreator atau penerbit, misalnya hak memajang karya untuk keperluan pribadi tanpa hak memperbanyak atau mengomersialkannya.
Laporan USPTO dan USCO yang dirilis pada 12 Maret 2024 menyoroti persoalan ini secara khusus. Laporan tersebut mencatat bahwa perbedaan antara memindahkan kepemilikan NFT dan memindahkan hak cipta atas karyanya telah menimbulkan kebingungan yang cukup besar. Di pasar seni konvensional, pembeli lukisan umumnya sudah memahami bahwa membeli karya fisik tidak sama dengan membeli hak ciptanya.
Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta membagi hak cipta menjadi hak moral dan hak ekonomi. Pasal 16 ayat (2) undang-undang tersebut menegaskan bahwa yang dapat dialihkan hanya hak ekonomi, misalnya melalui perjanjian tertulis, sedangkan hak moral tetap melekat pada pencipta. Karena itu, ketentuan lisensi sebuah koleksi perlu dibaca sama cermatnya dengan harga yang ditawarkan.
Apakah NFT Masih Relevan?
NFT masih relevan sebagai teknologi, meskipun pasar spekulatifnya sudah jauh menyusut dari puncak 2021 hingga 2022. Nilai perdagangan turun signifikan, tetapi jumlah transaksinya masih tergolong besar. Pertanyaan apakah NFT masih laku pada akhirnya bergantung pada kegunaan dan minat pasar terhadap masing-masing koleksi.
Data pasar menggambarkan pergeseran tersebut dengan jelas. Mengacu pada data DappRadar, tahun 2022 menjadi tahun terbaik NFT dengan volume perdagangan sekitar US$57,2 miliar, sedangkan 2024 menjadi tahun terlemah sejak 2020 dengan volume sekitar US$13,7 miliar. Penurunan berlanjut pada 2025, ketika volume perdagangan kuartal kedua tercatat sekitar US$823 juta atau turun 45% dibanding kuartal sebelumnya. Pada periode yang sama, jumlah penjualan justru naik 78% menjadi sekitar 12,5 juta transaksi. Kombinasi angka ini menunjukkan bahwa harga rata-rata NFT turun tajam, tetapi minat terhadap koleksi digital belum hilang.
Untuk konteks NFT Indonesia, pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto telah beralih dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 10 Januari 2025. OJK menerbitkan POJK 27/2024 dan SEOJK 20/SEOJK.07/2024 sebagai ketentuan teknis perdagangan aset keuangan digital. Seiring perkembangan teknologi dan pasar, regulasi di sektor ini terus diperbarui.
Kesimpulan
NFT adalah teknologi token unik yang memungkinkan kepemilikan item digital tercatat dan diverifikasi di blockchain. Penggunaannya beragam, mulai dari koleksi digital, game, tiket, hingga keanggotaan, tetapi risikonya juga tidak kecil. Volatilitas, likuiditas rendah, penipuan, hingga persoalan hak cipta menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan secara matang. Pemahaman tentang perbedaan antara memiliki token dan memiliki karya merupakan langkah awal untuk menilai NFT secara lebih rasional.
Luno Indonesia adalah platform dan aplikasi investasi aset kripto global yang berizin dan diawasi OJK. Melalui Luno, pengguna dapat membeli, menjual, dan menyimpan aset kripto yang tersedia di platformnya dengan proses yang mudah dan aman.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah NFT sama dengan file gambar digital?
NFT tidak sama dengan file gambar. NFT adalah token di blockchain yang berisi token ID dan metadata, sedangkan file gambarnya umumnya disimpan terpisah di luar blockchain. Pemilik NFT memegang catatan kepemilikan token, bukan file itu sendiri.
Apakah NFT masih diperjualbelikan?
Sebagian NFT masih diperjualbelikan, tetapi nilai pasarnya jauh lebih kecil dibanding puncak 2021 hingga 2022. Data DappRadar menunjukkan volume perdagangan terus menurun, sementara jumlah transaksi tetap tinggi dengan harga rata-rata yang lebih rendah. Laku atau tidaknya sebuah NFT sangat bergantung pada minat pembeli dan kegunaan koleksinya.
Apa itu NFT kripto dan di jaringan apa NFT berjalan?
NFT kripto adalah token unik yang diterbitkan di jaringan blockchain. Standar NFT yang paling dikenal adalah ERC-721 di jaringan Ethereum, yang diusulkan pada Januari 2018. Saat ini NFT juga dapat diterbitkan di berbagai jaringan blockchain lain dengan standar teknisnya masing-masing.
Apakah membeli NFT berarti memiliki hak cipta karyanya?
Membeli NFT tidak otomatis memberikan hak cipta atas karya yang terhubung dengannya. Hak pembeli bergantung pada lisensi yang ditetapkan kreator atau penerbit koleksi. Di Indonesia, UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mengatur bahwa hak ekonomi atas ciptaan hanya berpindah melalui pengalihan yang sah.
Bagaimana regulasi NFT di Indonesia?
NFT merupakan bagian dari ekosistem aset digital yang terus berkembang. Di Indonesia, pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto berada di bawah OJK sejak 10 Januari 2025 berdasarkan POJK 27/2024. Pengguna disarankan mengikuti informasi resmi dari regulator, memeriksa izin platform, dan memahami risikonya sebelum bertransaksi.
Apa risiko terbesar membeli NFT?
Risiko terbesar NFT meliputi penurunan harga yang tajam, kesulitan menjual kembali karena likuiditas rendah, serta penipuan melalui koleksi palsu atau tautan phishing. Risiko teknis seperti celah smart contract dan rusaknya tautan metadata juga dapat memengaruhi nilai NFT. Riset mandiri dan kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan menjadi langkah perlindungan utama.



