Halving Bitcoin adalah suatu peristiwa terprogram ketika imbalan (block reward) yang diterima miner akan dipotong 50% kira-kira setiap 210.000 blok atau setiap 4 tahun sekali. Miner adalah pihak yang memakai komputer untuk memproses transaksi Bitcoin dan mendapat Bitcoin baru sebagai imbalan.
Pemotongan ini mengatur laju penerbitan Bitcoin baru agar jumlahnya tidak melewati batas 21 juta koin. Namun, halving tidak otomatis membuat harga naik. Simak apa itu halving Bitcoin, cara kerjanya, dan kapan halving Bitcoin berikutnya pada ulasan di bawah ini.
Apa Itu Bitcoin Halving?
Block reward adalah Bitcoin baru yang diterima miner setiap kali berhasil menambahkan satu blok ke blockchain, yaitu buku catatan transaksi digital milik jaringan Bitcoin. Saat halving terjadi, imbalan ini dipotong 50%.
Jadi, halving Bitcoin adalah momen ketika Bitcoin baru yang masuk ke pasar turun separuh, dan bukan momen ketika harga ikut dipotong separuh.
Untuk lebih mudah memahaminya, bayangkan Anda memiliki tambang emas yang hasil produksinya dikurangi separuh setiap empat tahun. Emas yang sudah ditambang tetap ada, tetapi jumlah emas baru yang dihasilkan semakin sedikit. Prinsip serupa berlaku pada Bitcoin: jumlah Bitcoin yang sudah beredar tidak berkurang, tetapi penerbitan Bitcoin baru semakin terbatas.
Seperti informasi dari laman Forbes Advisor, per Juli 2026, lebih dari 20 juta BTC sudah ditambang dari batas 21 juta. Artinya, lebih dari 95% Bitcoin sudah ada, dan sisanya terbit lebih pelan.
Bagaimana Cara Kerja Bitcoin Halving?
Halving Bitcoin berlangsung secara otomatis berdasarkan aturan yang tertanam dalam protokol Bitcoin. Tidak ada perusahaan, pemerintah, atau pengembang yang bisa menekan atau memengaruhinya. Berikut cara kerja Bitcoin halving:
Miner berlomba menambahkan blok baru (mining). Para miner menggunakan komputer untuk mencari solusi yang memenuhi persyaratan jaringan dan yang berhasil berhak menerima block reward berupa Bitcoin.
Blok baru terbentuk sekitar setiap 10 menit. Jaringan Bitcoin menargetkan waktu pembentukan satu blok sekitar 10 menit. Dengan rata-rata tersebut, 210.000 blok membutuhkan waktu setidaknya 4 tahun untuk terbentuk.
Imbalan dipangkas setiap 210.000 blok. Ketika jumlah blok mencapai kelipatan 210.000, protokol Bitcoin secara otomatis mengurangi block reward sebesar 50%.
Miner menerima imbalan yang lebih rendah. Setelah halving terjadi, miner yang berhasil menambahkan blok baru akan menerima imbalan sesuai ketentuan terbaru. Besaran imbalan tersebut berlaku hingga periode halving berikutnya.
Kapan Bitcoin Halving Terjadi?
Bitcoin halving terjadi setiap 210.000 blok atau kira-kira 4 tahun sekali. Namun, tanggal pastinya tidak dapat ditentukan secara mutlak karena bergantung pada kecepatan jaringan dalam menghasilkan blok baru.
Sejak Bitcoin diluncurkan pada 2009 dengan imbalan awal sebesar 50 BTC per blok, halving telah terjadi sebanyak 4 kali. Halving kelima diperkirakan berlangsung pada April 2028, ketika jaringan mencapai blok ke-1.050.000.
Jika melihat riwayat sebelumnya, jarak antar-halving tidak selalu tepat empat tahun. Halving pada 2012 ke 2016 berlangsung sekitar 3,8 tahun, sedangkan periode 2016 ke 2020 dan 2020 ke 2024 masing-masing berlangsung sekitar 3,9 tahun.
Perbedaan ini terjadi karena waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap blok dapat berubah, meskipun jaringan Bitcoin menargetkan rata-rata satu blok setiap 10 menit.
Untuk lebih memahami jadwal halving dan perubahan imbalan dari waktu ke waktu, perhatikan tabel berikut:
Riwayat Bitcoin Halving
Halving | Tanggal | Reward sebelum | Reward sesudah | Nomor blok |
Pertama | 28 November 2012 | 50 BTC | 25 BTC | 210.000 |
Kedua | 9 Juli 2016 | 25 BTC | 12,5 BTC | 420.000 |
Ketiga | 11 Mei 2020 | 12,5 BTC | 6,25 BTC | 630.000 |
Keempat | 20 April 2024 | 6,25 BTC | 3,125 BTC | 840.000 |
Kelima (perkiraan) | Sekitar April 2028 | 3,125 BTC | 1,5625 BTC | 1.050.000 |
Sumber: Investopedia dan Forbes Advisor
Perlu dipahami bahwa jadwal halving kelima pada 2028 masih berupa perkiraan karena bergantung pada kecepatan pembentukan blok di jaringan Bitcoin. Seiring empat kali halving yang telah terjadi, imbalan miner kini telah berkurang dari 50 BTC menjadi 3,125 BTC per blok. Jika blok terbentuk lebih cepat atau lebih lambat dari target rata-rata 10 menit, perkiraan waktu terjadinya halving berikutnya juga dapat bergeser.
Baca juga: 5 Cara Membangun Portofolio Kripto untuk Pemula
Mengapa Bitcoin Memiliki Mekanisme Halving?
Mekanisme halving dirancang oleh pencipta Bitcoin yang dikenal dengan nama samaran Satoshi Nakamoto untuk mengatur laju penerbitan Bitcoin baru.
Melalui mekanisme ini, jumlah Bitcoin yang dihasilkan dari proses penambangan akan terus berkurang secara berkala hingga mendekati batas pasokan maksimum sebanyak 21 juta BTC.
Aturan tersebut membuat Bitcoin memiliki karakteristik yang berbeda dari mata uang fiat, seperti rupiah atau dolar, yang jumlah penerbitannya dapat dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral.
Sebaliknya, pasokan Bitcoin mengikuti aturan protokol yang telah ditetapkan dalam sistemnya. Dengan begitu, halving membantu menjaga keterbatasan pasokan Bitcoin tanpa bergantung pada keputusan satu lembaga atau otoritas tertentu.
Pengurangan imbalan penambangan ini juga membuat seluruh Bitcoin tidak langsung beredar dalam waktu singkat. Berdasarkan jadwal penerbitannya, proses penambangan diperkirakan berlangsung hingga sekitar tahun 2140.
Apa Dampak Halving bagi Miner?
Singkatnya, Bitcoin halving mengurangi jumlah Bitcoin baru yang diterima miner sebagai imbalan penambangan. Berikut tiga dampak utama halving bagi miner.
1. Perubahan Block Subsidy
Block subsidy adalah Bitcoin baru yang diberikan kepada miner yang berhasil menambahkan blok ke blockchain. Setelah halving pada April 2024, imbalan ini turun 50%, dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC per blok. Pada halving berikutnya yang diperkirakan terjadi pada 2028, jumlahnya akan kembali berkurang menjadi 1,5625 BTC.
Penurunan ini mengurangi jumlah Bitcoin yang diperoleh miner dari setiap blok. Jika harga Bitcoin tetap, nilai imbalan dalam mata uang fiat juga akan berkurang setengahnya. Namun, pendapatan miner tidak hanya berasal dari block subsidy, tetapi juga dari biaya transaksi yang dibayarkan pengguna.
2. Tekanan Biaya
Biaya listrik, pemeliharaan perangkat, dan pembelian mesin tidak otomatis turun ketika halving terjadi. Akibatnya, pendapatan yang lebih rendah dapat menekan margin keuntungan, terutama bagi miner dengan biaya operasional tinggi.
Sebagai gambaran, laporan yang mengutip data Checkonchain (platform analitik data on-chain) pada Agustus 2026 menyebutkan estimasi biaya produksi rata-rata satu Bitcoin mencapai US$78.254, sekitar 23% di atas harga pasar saat itu. Artinya, rata-rata miner sedang berada di bawah titik impas.
3. Efisiensi Mesin
Margin yang menipis membuat miner juga harus memutar otak untuk menekan biaya produksi per Bitcoin. Salah satu caranya adalah memakai mesin yang lebih efisien, yaitu mesin yang menghasilkan lebih banyak hitungan dengan listrik yang sama.
Dalam hal ini, miner juga harus terus menambah kapasitas agar tetap kompetitif, dan tambang berskala besar butuh modal serta listrik yang sangat besar.
Baca juga: Apa Itu Fluktuasi Kripto? Penyebab, Risiko, dan Cara Menghadapinya
4. Perubahan Hash Rate
Hash rate adalah estimasi total daya komputasi yang digunakan untuk menambang Bitcoin di seluruh jaringan. Setelah halving, sebagian miner yang tidak lagi menguntungkan dapat mengurangi aktivitas atau menghentikan operasionalnya.
Namun, penurunan imbalan tidak selalu diikuti penurunan hash rate karena faktor lain, seperti harga Bitcoin dan penggunaan mesin yang lebih efisien, turut memengaruhinya.
Hal ini terlihat setelah halving April 2024. Alih-alih langsung turun, hash rate jaringan justru terus meningkat sepanjang 2025 dan mencapai puncak sekitar 1.160 EH/s pada awal Oktober 2025.
Memasuki 2026, trennya berbalik. Hash rate turun dari puncaknya menjadi sekitar 850 EH/s pada awal Februari 2026, sebelum kembali mengalami pemulihan.
5. Block Subsidy vs Transaction Fee
Pendapatan miner Bitcoin berasal dari dua sumber, yaitu block subsidy dan transaction fee. Block subsidy merupakan Bitcoin baru yang diberikan oleh protokol jaringan sebagai imbalan atas keberhasilan menambang blok. Jumlahnya berkurang 50% setiap kali halving terjadi.
Sementara itu, transaction fee adalah biaya yang dibayarkan pengguna agar transaksi mereka diproses dan dimasukkan ke dalam blok. Besarnya biaya ini dapat berubah mengikuti permintaan ruang blok dan tingkat aktivitas jaringan.
Baca juga: Apa itu Whale dalam Kripto? Pengertian dan Cara Kerjanya
Apa Dampak Halving terhadap Harga Bitcoin?
Penasaran apa saja dampak halving terhadap harga Bitcoin? Berikut penjelasannya:
1. Hubungan Pasokan Baru dan Harga
Secara teori, berkurangnya pasokan Bitcoin baru dapat mendorong harga naik jika permintaan tetap atau meningkat. Sebaliknya, jika permintaan melemah, pengurangan pasokan saja belum tentu cukup untuk mempertahankan kenaikan harga.
2. Peran Ekspektasi Pasar
Pasar dapat bereaksi sebelum halving berlangsung karena investor sudah mengantisipasi berkurangnya pasokan. Menjelang halving April 2024, harga Bitcoin sempat naik sekitar 66% dalam empat bulan, lalu terkoreksi sekitar 25% hingga September 2024. Pergerakan ini menunjukkan bahwa harga juga dipengaruhi oleh ekspektasi dan aksi ambil untung investor.
3. Faktor Lain yang Memengaruhi Harga
Selain halving, harga Bitcoin dipengaruhi oleh suku bunga, regulasi, sentimen pasar, dan arus dana investor. Ketika suku bunga tinggi atau investor cenderung menghindari aset berisiko, tekanan jual dapat meningkat. Akibatnya, harga Bitcoin tetap berpotensi turun meskipun jumlah Bitcoin baru yang diterbitkan berkurang.
Lalu, Apakah Harga Bitcoin Selalu Naik setelah Halving?
Tidak selalu. Data historis menunjukkan bahwa harga Bitcoin mencapai puncak dengan kenaikan sekitar 8.800% setelah halving 2012, 2.600% pada 2016, 590% pada 2020, dan 43% pada 2024. Angka ini dihitung dalam poundsterling dan dapat berbeda menurut sumber serta periode pengukuran. Dengan hanya empat siklus, data tersebut belum cukup untuk memastikan pola kenaikan harga di masa depan.
Selain halving, harga Bitcoin dipengaruhi oleh permintaan pasar dan arus investasi. Misalnya, persetujuan spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat pada Januari 2024 membuka akses investasi baru beberapa bulan sebelum halving berikutnya.
Risiko koreksi juga tetap ada. Setelah mencapai rekor sekitar US$126.198 pada 7 Oktober 2025, harga Bitcoin turun sekitar 50% hingga Februari 2026. Artinya, halving dapat memengaruhi pasokan Bitcoin baru, tetapi tidak menjamin kenaikan harga atau mencegah penurunan pasar.
Baca juga: Pergerakan Harga Bitcoin Menjelang Akhir Tahun dan Faktornya
Apa yang Perlu Dipahami Investor Menjelang Halving?
Menjelang halving, perhatian pasar terhadap Bitcoin dapat meningkat dan memicu pergerakan harga yang lebih fluktuatif. Sebelum mengambil keputusan investasi, perhatikan beberapa hal berikut.
Volatilitas Harga: Harga Bitcoin dapat naik atau turun tajam dalam waktu singkat. Jangan menganggap tren kenaikan menjelang halving akan terus berlanjut.
Ekspektasi Pasar: Narasi bahwa halving pasti menaikkan harga belum tentu sesuai dengan kondisi pasar. Periksa data, sumber informasi, dan faktor lain yang memengaruhi harga.
Manajemen Risiko: Gunakan dana yang siap menanggung kerugian, bukan dana darurat atau uang pinjaman. Strategi pembelian bertahap (dollar-cost averaging) dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu waktu pembelian.
Hindari FOMO: Jangan membeli hanya karena takut tertinggal saat harga naik. Tetapkan tujuan investasi, batas risiko, dan rencana pembelian sebelum mengambil keputusan.
Kesimpulan
Halving Bitcoin merupakan mekanisme yang mengurangi imbalan miner hingga setengahnya setiap 210.000 blok. Mekanisme ini membantu mengendalikan suplai Bitcoin dengan mempertahankan batas maksimum 21 juta koin. Meski kerap dikaitkan dengan kenaikan harga, halving tidak menjamin keuntungan bagi investor. Dampaknya terhadap miner dapat dirasakan secara langsung, sementara pergerakan harga Bitcoin tetap dipengaruhi oleh permintaan dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Sebelum berinvestasi, pastikan Anda memahami cara kerja aset kripto serta risiko yang menyertainya.
Untuk mulai mengenal dan bertransaksi aset kripto, Anda dapat menggunakan Luno Indonesia, platform dan aplikasi investasi aset kripto global yang berizin dan diawasi oleh OJK. Melalui Luno, Anda dapat membeli, menjual, dan menyimpan Bitcoin maupun aset kripto lain yang tersedia di platform.
Baca juga: Mengapa Perusahaan Raksasa Global Mulai Menyimpan Bitcoin?




