Altcoin adalah istilah umum untuk aset kripto selain Bitcoin. Namun, bukan berarti semua altcoin memiliki karakteristik yang sama. Setiap aset ini dapat memiliki teknologi, fungsi, tokenomics, tingkat adopsi, dan profil risiko yang berbeda.
Oleh karena itu, jika ingin memahami apa itu altcoin, Anda juga perlu melihat bagaimana aset tersebut digunakan dan dikembangkan. Memahami karakteristik ini dapat membantu Anda membedakan satu aset dengan aset lainnya, termasuk mengenali risiko yang mungkin menyertainya. Untuk memahami lebih lanjut seputar altcoin, simak pembahasan berikut hingga tuntas.
Apa Itu Altcoin?
Altcoin adalah singkatan dari alternative coin, yaitu istilah yang awalnya digunakan untuk menyebut koin alternatif selain Bitcoin. Istilah ini muncul setelah Bitcoin diperkenalkan dan berbagai proyek kripto lainnya mulai dikembangkan dengan teknologi maupun tujuan yang berbeda.
Saat ini, altcoin umumnya digunakan untuk menyebut aset kripto selain Bitcoin. Namun, penggunaannya tidak selalu seragam. Sebagian pihak bahkan juga menggunakan istilah ini untuk aset selain Bitcoin dan Ethereum, sementara ada juga pihak lain yang mengkategorikan Ethereum sebagai altcoin.
Jadi, altcoin mencakup kelompok aset yang sangat beragam, bahkan ada yang memiliki blockchain sendiri. Sementara aset lainnya, dibuat di atas jaringan blockchain yang sudah ada.
Apa Perbedaan Altcoin dan Bitcoin?
Bitcoin merupakan aset kripto pertama yang diperkenalkan pada 2008. Setelah itu, berbagai proyek lain muncul dengan pendekatan berbeda untuk mengembangkan penggunaan teknologi blockchain.
Lantas, apa yang membedakan Bitcoin dengan altcoin? Berikut adalah perbedaan altcoin dengan Bitcoin jika ditinjau dari berbagai aspek:
Aspek | Bitcoin | Altcoin |
Jaringan | Beroperasi pada jaringan blockchain Bitcoin. | Dapat menggunakan blockchain sendiri atau dibangun di atas jaringan lain. |
Tujuan | Dirancang sebagai sistem pembayaran digital peer-to-peer. | Dapat memiliki tujuan yang lebih spesifik, seperti menjalankan smart contract, mendukung aplikasi terdesentralisasi, atau menyediakan layanan tertentu. |
Supply | Memiliki batas maksimum 21 juta BTC. | Kebijakan pasokan berbeda-beda. Ada yang memiliki batas maksimum, ada yang terus menerbitkan token baru, dan ada yang menggunakan mekanisme burn. |
Konsensus | Menggunakan Proof of Work (PoW). | Jaringan dapat menggunakan mekanisme berbeda, termasuk Proof of Stake (PoS). |
Tingkat adopsi | Aset kripto pertama dan memiliki tingkat pengenalan yang luas. | Adopsi sangat bervariasi karena bergantung pada proyek, komunitas, penggunaan, dan perkembangan ekosistemnya. |
Volatilitas | Pergerakan harga setiap aset berbeda. | Altcoin dengan kapitalisasi pasar atau likuiditas yang lebih kecil dapat mengalami perubahan harga yang lebih tajam. |
Jadi, meskipun Bitcoin dan altcoin sama-sama menggunakan teknologi blockchain, keduanya tidak selalu memiliki tujuan maupun mekanisme yang sama.
Baca juga: Mengapa Perusahaan Raksasa Global Mulai Menyimpan Bitcoin?
Apa Saja Jenis Altcoin?
Altcoin dapat dikelompokkan berdasarkan fungsi atau karakteristiknya. Bahkan, satu aset altcoin juga dapat memiliki lebih dari satu fungsi sehingga kategorinya tidak selalu bersifat mutlak. Berikut beberapa kategori altcoin yang umum ditemukan dalam ekosistem aset kripto:
1. Smart Contract Coin
Digunakan pada jaringan yang mendukung smart contract, yaitu program yang dapat menjalankan instruksi tertentu berdasarkan aturan yang telah ditentukan. Contoh: Ethereum dan Solana.
2. Stablecoin
Berbeda dari kebanyakan aset kripto yang harganya dapat berubah cukup tajam, stablecoin dirancang untuk menjaga nilai agar relatif stabil terhadap aset acuan tertentu, umumnya dolar AS. Contoh: USDT dan USDC.
3. Utility Token
Utility token memiliki kegunaan tertentu di dalam s ebuah ekosistem. Pemegangnya dapat menggunakan token untuk membayar biaya, mengakses layanan, atau membuka fitur tertentu, tergantung pada desain proyek.
4. Governance Token
Token jenis ini berkaitan dengan tata kelola sebuah protokol. Pemegang token dapat memperoleh hak untuk memberikan suara pada proposal atau perubahan tertentu dalam sistem. Besarnya hak dan jenis keputusan yang dapat diikuti tetap bergantung pada mekanisme governance masing-masing proyek.
5. Meme Coin
Merupakan aset yang banyak dipengaruhi budaya internet, komunitas, dan tren. Pergerakan harganya dapat sangat dipengaruhi perhatian publik dan sentimen pasar. Oleh karena itu, nilainya dapat berubah dengan cepat dalam waktu singkat.
6. Privacy Coin
Privacy coin dikembangkan dengan fitur yang berfokus pada perlindungan privasi transaksi. Tujuannya adalah membatasi keterbukaan informasi transaksi tertentu yang biasanya dapat dilihat pada jaringan blockchain. Contoh: Monero.
Apa Fungsi Altcoin?
Fungsi altcoin sebenarnya cukup bervariasi, sebab setiap altcoin dirancang dengan tujuan dan fungsi yang berbeda. Ada altcoin yang digunakan sebagai alat pembayaran atau untuk membayar biaya transaksi di jaringan blockchain.
Lalu, ada juga yang punya fungsi lebih spesifik, misalnya untuk memberikan akses ke layanan tertentu atau memungkinkan pemegangnya ikut mengambil keputusan dalam sebuah protokol.
Berikut beberapa fungsi altcoin yang perlu Anda ketahui:
Pembayaran dan aplikasi terdesentralisasi: Pada jaringan yang mendukung smart contract, aset asli jaringan biasanya digunakan untuk membayar biaya transaksi sekaligus menjalankan berbagai aplikasi terdesentralisasi (dApp).
Akses ke layanan: Beberapa token berfungsi sebagai akses untuk menggunakan layanan atau fitur tertentu yang disediakan oleh sebuah proyek.
Governance: Altcoin juga bisa digunakan dalam mekanisme governance. Artinya, pemegang token dapat memperoleh hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terkait perkembangan atau aturan sebuah protokol.
Eksplorasi teknologi: Sejumlah proyek menciptakan aset kripto untuk mengeksplorasi berbagai penggunaan teknologi blockchain, mulai dari penyimpanan terdesentralisasi dan interoperabilitas antarjaringan hingga layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi).
Jadi, fungsi altcoin tidak bisa disamaratakan. Untuk memahami kegunaan suatu altcoin, hal yang paling penting adalah melihat apa peran token tersebut di dalam ekosistemnya. Dengan begitu, Anda tidak hanya melihat altcoin sebagai aset untuk diperdagangkan, tetapi juga memahami teknologi dan layanan yang mendasarinya.
Baca juga: Panduan Kripto: Perbedaan Order Book, Market Order, dan Limit Order
Apa yang Memengaruhi Nilai Altcoin?
Lantas, apa yang sebenarnya membuat nilai sebuah altcoin naik atau turun? Sejatinya, tidak ada satu faktor yang bisa menjelaskan pergerakan harga altcoin. Seperti aset lain yang diperdagangkan di pasar, nilai altcoin pada dasarnya terbentuk dari interaksi antara permintaan dan penawaran.
Namun, permintaan terhadap suatu altcoin dapat dipengaruhi oleh banyak hal, di antaranya:
1. Utilitas
Utilitas berkaitan dengan seberapa jelas fungsi sebuah token dan seberapa besar kebutuhannya di dalam ekosistem.
Misalnya, token digunakan untuk membayar biaya transaksi, mengakses layanan, atau menjalankan fungsi tertentu dalam sebuah protokol. Semakin jelas perannya, semakin nyata pula alasan bagi pengguna untuk menggunakan atau memegang token tersebut.
2. Tokenomics
Kalau ingin memahami sebuah altcoin lebih jauh, melihat harga saja tentu belum cukup. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah tokenomics, yaitu bagaimana sebuah token dirancang dan bagaimana mekanisme ekonominya bekerja di dalam ekosistem.
Tokenomics pada dasarnya menjawab beberapa pertanyaan penting, seperti:
Berapa banyak token yang akan tersedia?
Bagaimana token tersebut didistribusikan?
Apakah pasokannya bertambah seiring waktu?
Siapa yang menerima token baru?
Dan, yang tidak kalah penting, apa yang membuat orang membutuhkan token tersebut?
3. Adopsi
Adopsi dilihat dari jumlah pengguna, aktivitas jaringan, serta aplikasi atau layanan yang menggunakan ekosistem tersebut. Semakin luas penggunaannya, semakin besar pula potensi kebutuhan terhadap token yang menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
4. Likuiditas
Likuiditas menggambarkan seberapa mudah aset diperjualbelikan tanpa menyebabkan perubahan harga yang besar. Aset dengan likuiditas rendah biasanya memiliki selisih harga beli dan jual yang lebih lebar, sehingga lebih rentan bergerak tajam.
5. Sentimen Pasar
Perlu diketahui bahwa persepsi pasar terhadap sebuah proyek pun dapat berubah dengan cepat, terutama ketika muncul informasi baru.
Berita, pembaruan dari proyek, percakapan di komunitas, hingga perhatian publik bisa memengaruhi minat pelaku pasar. Ketika persepsi tersebut berubah, permintaan terhadap sebuah altcoin juga dapat ikut berubah dalam waktu singkat.
6. Perkembangan Proyek
Perkembangan proyek mencakup kemajuan teknologi, produk, maupun ekosistem yang dibangun oleh proyek tersebut. Misalnya, pembaruan jaringan atau peluncuran fitur baru dapat meningkatkan penggunaan suatu ekosistem.
Meski demikian, dampaknya terhadap nilai/harga tidak selalu sama karena respons pelaku pasar akan bergantung pada bagaimana mereka menilai perkembangan tersebut.
7. Kondisi Pasar
Ketika pasar kripto secara keseluruhan sedang mengalami perubahan besar, pergerakan tersebut sering kali ikut terasa pada berbagai altcoin, terlepas dari perkembangan masing-masing proyek. Sebab, sebagai aset dengan kapitalisasi pasar terbesar di pasar kripto, perubahan harga Bitcoin dapat memengaruhi sentimen dan arus dana di pasar secara lebih luas.
Mengapa Tokenomics Penting?
Tokenomics merupakan konsep yang menjelaskan bagaimana suatu token dirancang, diterbitkan, didistribusikan, dan digunakan dalam sebuah ekosistem.
Bagi Anda yang sedang mempelajari suatu altcoin, memahami tokenomics dapat membantu melihat bagaimana pasokan token dan kepemilikannya dapat memengaruhi dinamika aset tersebut.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan meliputi:
Supply: jumlah token yang beredar dan, jika ada, batas maksimum token yang dapat diterbitkan.
Distribusi: pembagian token kepada tim, investor awal, komunitas, maupun pihak lainnya.
Vesting dan unlock: jadwal pelepasan token yang sebelumnya dikunci. Pelepasan dalam jumlah besar dapat meningkatkan jumlah token yang tersedia untuk diperdagangkan.
Inflasi: penerbitan token baru yang menambah jumlah pasokan dalam periode tertentu.
Utilitas: fungsi token dan alasan token tersebut diperlukan dalam ekosistem.
Apa Risiko Berinvestasi pada Altcoin?
Meski fungsinya beragam, altcoin tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu Anda pahami sebelum mempertimbangkannya sebagai aset investasi. Berikut selengkapnya:
1. Volatilitas
Harga altcoin dapat mengalami perubahan yang besar dalam waktu singkat. Pergerakannya dapat dipengaruhi oleh sentimen pasar, berita terkait proyek, likuiditas, aktivitas perdagangan, maupun kondisi pasar kripto secara keseluruhan.
Risiko ini perlu Anda pertimbangkan juga pada aset dengan kapitalisasi pasar dan volume perdagangan yang lebih kecil. Pada aset seperti ini, perubahan permintaan dalam jumlah besar dapat memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap harga.
2. Proyek Gagal
Tidak semua proyek kripto berhasil mempertahankan pengembangan dan adopsinya. Sebuah proyek dapat mengalami masalah ketika produk tidak mendapatkan pengguna yang cukup, pendanaan berkurang, pengembangan terhenti, atau ekosistemnya tidak lagi berkembang.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi nilai token yang bergantung pada keberlangsungan ekosistemnya.
3. Likuiditas Rendah
Likuiditas menunjukkan seberapa mudah suatu aset dapat dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang besar.
Altcoin dengan likuiditas rendah dapat memiliki spread yang lebih lebar antara harga beli dan harga jual. Akibatnya, Anda bisa lebih sulit melakukan transaksi pada harga yang diharapkan.
4. Konsentrasi Token
Selain jumlah pasokan, distribusi kepemilikan token juga perlu diperhatikan. Jika sebagian besar pasokan berada pada segelintir pihak atau alamat, transaksi dalam jumlah besar dari pemegang tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pasar.
5. Smart Contract Risk
Di balik berbagai layanan yang berjalan secara otomatis di blockchain, terdapat kode smart contract yang menjalankan aturan protokol, mulai dari memproses transaksi hingga mengatur perpindahan aset.
Masalahnya, smart contract umumnya dirancang untuk menjalankan instruksi secara otomatis. Jika terdapat bug atau kerentanan, pihak yang tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkannya untuk melakukan tindakan yang tidak diharapkan, termasuk mengakses atau memindahkan aset.
Namun, risiko yang sama juga bisa datang dari kesalahan pengguna, seperti memilih jaringan yang keliru atau mengirim aset ke alamat yang salah.
6. Scam dan Rug Pull
Tidak semua proyek altcoin dibangun dengan tujuan yang jelas atau dikelola secara transparan. Di pasar kripto, ada pula proyek yang dibuat untuk mengambil keuntungan dari investor, salah satunya dengan skema rug pull.
Dalam skema ini, pihak di balik proyek dapat menarik likuiditas yang tersedia atau menghentikan proyek secara tiba-tiba, sehingga pemegang token kesulitan menjual asetnya dan berpotensi mengalami kerugian.
Karena itu, sebelum membeli sebuah altcoin, periksa informasi proyek, tim, mekanisme token, aktivitas pengembangan, dan sumber informasi yang Anda gunakan.
7. Jangan Terjebak Unit Bias
Melihat harga satu token saja bisa membuat sebuah altcoin terlihat “murah”, padahal angka tersebut belum memberi tahu seberapa besar nilai keseluruhan asetnya.
Sebagai contoh, token seharga Rp100 dengan 100 miliar token yang beredar memiliki kapitalisasi pasar Rp10 triliun. Sementara itu, token seharga Rp1 juta dengan 1 juta token yang beredar memiliki kapitalisasi pasar Rp1 triliun.
Perhitungan sederhana tersebut menunjukkan mengapa harga per koin perlu dilihat bersama jumlah token yang beredar.
Baca juga: Apa itu Altcoin Season Index? Cara Kerja dan Cara Membacanya
Kesimpulan
Setelah mempelajari apa itu altcoin, kini Anda tahu bahwa di balik istilah yang sama, setiap aset bisa memiliki tujuan, teknologi, mekanisme token, dan ekosistem yang berbeda. Ada yang digunakan untuk mendukung smart contract, menyediakan layanan tertentu, menjalankan governance, mempertahankan nilai yang relatif stabil, hingga mengembangkan penggunaan baru teknologi blockchain.
Karena karakteristiknya beragam, memahami altcoin tidak cukup hanya dengan melihat harganya saja. Anda juga perlu memperhatikan fungsi, tokenomics, adopsi, likuiditas, perkembangan proyek, keamanan teknologi, serta berbagai risiko seperti volatilitas dan scam.
Setelah memahami altcoin, Anda tertarik mengeksplorasi aset kripto? Bagi Anda yang ingin mengenal dan berinvestasi pada aset kripto, Luno Indonesia menyediakan cara yang praktis untuk membeli, menjual, dan menyimpan berbagai aset kripto dalam satu aplikasi investasi aset kripto global yang telah berizin dan diawasi OJK.




