Apa Itu Bear Market? Pengertian, Ciri, Penyebab, dan Dampaknya pada Kripto
Bear market adalah periode ketika harga aset atau pasar secara umum cenderung turun dalam jangka waktu tertentu, disertai melemahnya sentimen investor. Istilah ini menggambarkan tren penurunan yang meluas dan bertahan cukup lama, tidak sekadar harga yang turun dalam satu atau dua hari.
Di pasar saham, bear market umumnya diukur dengan patokan penurunan 20% dari titik tertinggi terakhir. Bear market kripto atau bear market kripto adalah kondisi serupa yang terjadi di pasar aset kripto, tetapi patokan satu angka saja kurang memadai. Harga aset kripto bisa bergerak 20% dalam hitungan hari. Karena itu, lamanya penurunan, luasnya pelemahan di berbagai aset, dan arah sentimen investor juga perlu diperhitungkan.
Bagi investor, memahami apa itu bear market membantu membaca kondisi pasar dengan lebih tenang, mengenali risikonya, dan menyusun keputusan yang sesuai dengan profil risiko masing-masing. Artikel ini membahas pengertian bear market, ciri-cirinya di pasar kripto, penyebabnya, perbedaannya dengan bull market, dampaknya bagi investor, hingga sikap yang dapat dipertimbangkan saat pasar sedang turun.
Apa Itu Bear Market?
Bear market adalah fase pasar ketika harga sebagian besar aset turun secara bertahap dan berkelanjutan, sementara investor cenderung pesimistis. Berbeda dengan penurunan harga sesaat, bear market dapat berlangsung berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun. Fase ini biasanya diwarnai minat beli yang lemah dan kekhawatiran yang meluas di kalangan pelaku pasar.
Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC), melalui laman edukasi Investor.gov, menggambarkan bear market sebagai masa ketika harga saham menurun dan sentimen pasar pesimistis. Lembaga itu juga menyebut bear market secara umum terjadi saat indeks pasar yang luas turun 20% atau lebih dalam periode minimal dua bulan.
Istilah “bear” atau beruang umumnya dikaitkan dengan cara hewan ini menyerang, yaitu mengayunkan cakarnya ke bawah, sebagai gambaran harga yang ditekan turun. Dari sini muncul istilah bearish. Bearish adalah sebutan untuk pandangan atau kondisi pasar yang memperkirakan harga akan turun. Dalam praktiknya, bearish artinya pelaku pasar lebih banyak menjual atau menahan diri karena menilai prospek harga sedang negatif.
Bear market juga perlu dibedakan dari koreksi harga jangka pendek. Koreksi adalah penurunan sementara di tengah tren yang masih naik, sedangkan bear market menandakan arah tren yang sudah berbalik turun. Perbedaan keduanya dibahas lebih rinci pada bagian berikutnya.
Bear market sendiri bukan peristiwa langka. Data Hartford Funds mencatat indeks S&P 500 telah melewati 27 kali bear market sejak 1928, dengan rata-rata penurunan sekitar 35% dan durasi rata-rata 289 hari atau kira-kira 9,6 bulan.
Penurunan di pasar kripto historis jauh lebih dalam. Sepanjang 2022, harga Bitcoin merosot sekitar 65%, sementara kapitalisasi pasar kripto global menyusut dari lebih dari US2triliunmenjadisekitarUS839 miliar, seperti dilaporkan The Block.
Apa Ciri-Ciri Bear Market Kripto?
Ciri utama bear market di pasar kripto adalah harga yang terus membentuk titik puncak dan titik dasar yang makin rendah, volume dan minat beli yang melemah, penurunan yang terjadi serentak di banyak aset, serta investor yang makin menghindari risiko. Ciri-ciri ini lebih akurat jika dibaca bersamaan, bukan satu per satu.
Tren lower high dan lower low. Setiap kenaikan harga berhenti di level yang lebih rendah dari puncak sebelumnya (lower high), dan setiap penurunan menembus titik dasar sebelumnya (lower low). Pola ini menandakan tekanan jual lebih dominan daripada minat beli. Kenaikan singkat yang sesekali muncul di tengah tren turun dikenal sebagai relief rally.
Volume dan sentimen melemah. Aktivitas transaksi cenderung menurun karena banyak investor memilih menunggu. Sentimen pasar dapat dipantau melalui indeks Fear & Greed dari Alternative.me. Indeks ini mengukur emosi pasar pada skala 0 (ketakutan ekstrem) hingga 100 (keserakahan ekstrem) berdasarkan volatilitas, momentum dan volume, aktivitas media sosial, dominasi Bitcoin, serta tren pencarian.
Penurunan meluas antaraset. Pelemahan tidak berhenti pada satu atau dua aset, tetapi merambat ke Bitcoin, Ethereum, hingga aset berkapitalisasi kecil. Pada kondisi seperti ini, kabar positif dari satu proyek sering kali tidak cukup untuk menahan harganya ikut turun.
Meningkatnya penghindaran risiko. Investor mengurangi porsi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti kas atau obligasi. Sikap ini dikenal sebagai risk aversion, dan membuat berita negatif cenderung berdampak lebih besar terhadap harga dibanding berita positif.
Bear Market vs Koreksi
Koreksi adalah penurunan harga yang relatif singkat dan terbatas, lalu tren naik umumnya berlanjut. Di pasar saham, koreksi lazim dipatok pada penurunan sekitar 10% hingga di bawah 20%. Bear market menggambarkan penurunan yang lebih dalam, lebih luas, dan bertahan lebih lama.
Di pasar kripto, batas persentase tersebut sulit dijadikan pegangan tunggal. Harga Bitcoin pernah turun lebih dari 20% dalam beberapa pekan, kemudian kembali ke tren naik. Oleh sebab itu, perbedaan koreksi dan bear market lebih tepat dilihat dari beberapa sisi berikut.
Aspek | Koreksi | Bear market |
Durasi | Hitungan hari hingga beberapa pekan | Hitungan bulan, bisa lebih dari setahun |
Kedalaman | Relatif terbatas | Lebih dalam dan berlanjut |
Cakupan | Bisa terjadi pada aset tertentu saja | Meluas ke sebagian besar aset |
Struktur tren | Tren naik jangka panjang masih utuh | Lower high dan lower low terbentuk berulang |
Sentimen | Waspada, tetapi minat beli cepat kembali | Pesimistis dan bertahan lama |
Apa Penyebab Bear Market?
Bear market biasanya dipicu kombinasi beberapa faktor, bukan satu peristiwa tunggal. Pemicunya bisa berupa tekanan ekonomi makro, likuiditas yang mengetat akibat kenaikan suku bunga, perubahan regulasi, pelepasan posisi berutang secara massal, kegagalan proyek atau perusahaan besar, hingga berbaliknya sentimen investor setelah reli panjang.
Kondisi ekonomi makro. Inflasi tinggi, perlambatan ekonomi, atau ketegangan geopolitik membuat investor menahan diri dari aset berisiko. Beberapa indikator yang kerap memengaruhi harga dapat dipelajari dalam ulasan data makroekonomi yang sering membuat harga Bitcoin fluktuatif.
Suku bunga dan likuiditas. Saat bank sentral menaikkan suku bunga, biaya pinjaman meningkat dan dana yang beredar di pasar berkurang. Sepanjang 2022, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan tujuh kali hingga mencapai kisaran 4,25%–4,50% pada Desember, sebagaimana tercantum dalam pernyataan resmi Federal Reserve. Pada tahun yang sama, pasar kripto mengalami salah satu penurunan terdalam dalam sejarahnya.
Perubahan regulasi. Ketidakpastian aturan atau kebijakan yang lebih ketat di negara dengan pasar besar dapat menekan minat investor ritel maupun institusi.
Deleveraging. Sebagian pelaku pasar memakai dana pinjaman (leverage) melalui produk derivatif. Ketika harga turun tajam, posisi tersebut ditutup paksa atau dilikuidasi, sehingga memicu gelombang penjualan berikutnya. Pada 10–11 Oktober 2025, posisi berutang senilai lebih dari US$19 miliar dilikuidasi dalam 24 jam, rekor terbesar dalam sejarah pasar kripto berdasarkan data CoinGlass yang dirangkum CoinGecko.
Kegagalan proyek atau perusahaan. Runtuhnya ekosistem Terra pada Mei 2022, disusul kebangkrutan Three Arrows Capital, Celsius, dan bursa FTX, memperdalam penurunan pasar sepanjang tahun itu. Kegagalan pihak besar dapat merusak kepercayaan sekaligus memaksa penjualan aset dalam jumlah besar.
Perubahan sentimen. Setelah reli panjang, ekspektasi yang terlalu tinggi dapat berbalik menjadi kekecewaan. Penurunan harga memicu kekhawatiran, kekhawatiran mendorong penjualan, dan penjualan kembali menekan harga.
Rangkaian faktor tersebut juga terlihat pada siklus terbaru. Bitcoin mencetak rekor harga di sekitar US126.000padaOktober2025,tidaklamasebelumperistiwalikuidasimassaltadi.PadaawalJuni2026,harganyasempatjatuhkeUS59.099, level terendah sejak Oktober 2024 atau lebih dari separuh di bawah puncaknya, seperti dilaporkan CNBC.
Bear Market vs Bull Market: Apa Bedanya?
Bull market adalah kebalikan dari bear market, yaitu fase ketika harga cenderung naik dan investor optimistis. Perbedaan keduanya terlihat pada arah tren, sentimen, perilaku investor, dan kondisi likuiditas. Keduanya merupakan bagian dari siklus pasar yang silih berganti, dan waktu dimulai atau berakhirnya tidak pernah dapat dipastikan.
Aspek | Bull market | Bear market |
Arah tren | Naik, membentuk higher high dan higher low | Turun, membentuk lower high dan lower low |
Sentimen | Optimistis, cenderung serakah | Pesimistis, cenderung takut |
Perilaku investor | Agresif menambah posisi, rawan FOMO | Menahan diri, rawan panic selling |
Likuiditas | Dana masuk melimpah, volume tinggi | Dana keluar, volume menipis |
Respons terhadap berita | Kabar positif mendorong harga lebih tinggi | Kabar negatif berdampak lebih besar |
Hartford Funds mencatat rata-rata bull market di indeks S&P 500 berlangsung sekitar 2,7 tahun, jauh lebih panjang dari rata-rata bear market yang kurang dari 10 bulan. Pola ini berasal dari pasar saham Amerika Serikat sehingga tidak bisa diterapkan begitu saja pada pasar kripto. Meski demikian, data tersebut menunjukkan bahwa fase naik dan turun memang datang bergantian.
Pergantian fase pun umumnya baru dapat dipastikan setelah terjadi. Titik terendah bear market maupun puncak bull market hampir selalu baru dikenali belakangan, sehingga menebak waktunya secara tepat sangat sulit, bahkan bagi investor berpengalaman.
Apa Dampak Bear Market bagi Investor Kripto?
Bear market berdampak pada nilai portofolio yang menyusut, volatilitas yang meningkat, likuiditas yang menipis terutama pada aset berkapitalisasi kecil, serta tekanan psikologis yang dapat memengaruhi keputusan investasi. Besarnya dampak berbeda bagi setiap investor, bergantung pada porsi aset kripto dalam portofolio dan jangka waktu investasinya.
Nilai portofolio turun. Saat harga turun, nilai aset yang dimiliki ikut menyusut meskipun jumlah koinnya tetap. Kerugian ini belum terealisasi selama aset belum dijual, tetapi tetap perlu diperhitungkan dalam perencanaan keuangan.
Volatilitas meningkat. Harga dapat bergerak tajam ke dua arah dalam waktu singkat, termasuk lonjakan sesaat yang kemudian berbalik turun.
Likuiditas menipis. Jumlah pembeli dan penjual aktif berkurang, sehingga transaksi dalam jumlah besar dapat menggeser harga lebih jauh dari perkiraan.
Tekanan psikologis. Melihat nilai portofolio menyusut dari hari ke hari dapat memicu keputusan emosional, seperti menjual di harga terendah atau membeli tanpa perhitungan karena takut tertinggal.
Risiko Altcoin Saat Likuiditas Menurun
Altcoin adalah sebutan untuk aset kripto selain Bitcoin. Saat bear market, altcoin berkapitalisasi kecil umumnya mengalami volatilitas lebih tinggi dan masalah likuiditas lebih besar dibanding aset yang lebih mapan. Dana yang beredar di aset tersebut lebih sedikit, sehingga penjualan dalam jumlah relatif kecil pun dapat menekan harga secara signifikan.
Ketika pasar tertekan, investor juga cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih kuat. Akibatnya, altcoin sering kali turun lebih dalam dan pulih lebih lambat. Sebagian proyek bahkan tidak bertahan, seperti ekosistem Terra yang runtuh pada 2022 dan membuat token-tokennya kehilangan hampir seluruh nilainya.
Sebelum membeli altcoin, ada baiknya memeriksa volume transaksi hariannya, memahami fungsi dan fundamental proyeknya, serta menyadari bahwa tidak semua aset akan kembali ke harga puncaknya.
Bagaimana Bersikap Saat Bear Market?
Saat bear market, langkah yang lebih bijak adalah mengevaluasi ulang profil risiko, menjaga diversifikasi, disiplin pada rencana investasi, menghindari keputusan emosional seperti panic selling dan FOMO, serta tidak berinvestasi dengan dana pinjaman. Prinsip-prinsip ini membantu menjaga keputusan tetap rasional di tengah tekanan pasar.
Evaluasi ulang profil risiko. Pastikan dana yang ditempatkan di aset kripto adalah dana yang siap Anda tanggung risikonya, terpisah dari dana darurat dan kebutuhan jangka pendek.
Jaga diversifikasi. Hindari menaruh seluruh dana pada satu aset. Menyebar dana ke beberapa aset dan kelas aset dapat membantu meredam dampak penurunan pada aset tertentu, meski tidak menghilangkan risiko sepenuhnya.
Disiplin pada rencana. Tentukan tujuan, jangka waktu, dan batas porsi investasi sejak awal. Sebagian investor memilih membeli secara bertahap dengan nominal tetap melalui strategi dollar cost averaging agar keputusan tidak dipengaruhi pergerakan harga harian.
Hindari panic selling dan FOMO. Panic selling adalah menjual aset karena panik, sering kali di harga yang sudah sangat rendah. FOMO (fear of missing out) adalah dorongan membeli karena takut tertinggal saat harga sempat melonjak. Keduanya lahir dari emosi, bukan dari analisis.
Tidak menggunakan utang. Berinvestasi dengan dana pinjaman atau leverage dapat melipatgandakan kerugian. Posisi berutang juga bisa dilikuidasi paksa ketika harga bergerak berlawanan, seperti yang terjadi pada Oktober 2025.
Jaga keamanan aset dan waspadai penipuan. Masa pasar lesu kerap dimanfaatkan pelaku penipuan yang menjanjikan imbal hasil pasti atau pemulihan dana. Pahami perbedaan hot wallet dan cold wallet, pertimbangkan multi-signature wallet sebagai lapisan keamanan tambahan, dan jangan pernah membagikan seed phrase. Seed phrase adalah rangkaian kata kunci pemulihan dompet yang bekerja berdasarkan prinsip kriptografi. Jika terlanjur menjadi korban, pelajari langkah yang perlu dilakukan setelah terkena penipuan Bitcoin.
Tidak Ada Strategi yang Menjamin Untung
Strategi seperti membeli saat harga turun (buy the dip) atau membeli secara bertahap sering dibahas ketika bear market berlangsung. Namun, tidak ada strategi yang menjamin keuntungan. Harga yang sudah turun dalam masih bisa turun lebih jauh, dan titik terendah pasar hampir selalu baru dapat dikenali setelah terlewati.
Data historis juga perlu dibaca dengan hati-hati. Pasar kripto memang pernah pulih setelah bear market sebelumnya, tetapi kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Setiap aset memiliki risiko yang berbeda, dan sebagian aset tidak pernah kembali ke harga puncaknya.
Karena itu, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada tujuan keuangan, jangka waktu, dan toleransi risiko masing-masing. Pastikan Anda bertransaksi melalui pedagang aset kripto yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta pahami peringatan risiko investasi aset kripto sebelum membeli.
Kesimpulan
Bear market adalah fase ketika harga aset turun secara luas dan berkelanjutan, disertai sentimen investor yang melemah. Di pasar kripto, kondisi ini lebih tepat dikenali dari kombinasi lamanya penurunan, luasnya pelemahan antaraset, dan arah sentimen, bukan dari satu patokan angka saja.
Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi makroekonomi, suku bunga dan likuiditas, regulasi, deleveraging, hingga kegagalan proyek besar. Dampaknya pun terasa pada nilai portofolio, volatilitas, likuiditas aset kecil, dan kondisi psikologis investor.
Menghadapi bear market pada akhirnya membutuhkan disiplin dalam mengelola risiko. Evaluasi profil risiko, jaga diversifikasi, hindari keputusan emosional dan penggunaan utang, serta ingat bahwa tidak ada strategi yang menjamin keuntungan.
Jika ingin berinvestasi aset kripto, Anda dapat memulainya di Luno Indonesia, platform dan aplikasi investasi aset kripto global yang telah berizin dan diawasi OJK. Melalui Luno, pengguna di Indonesia dapat membeli, menjual, dan menyimpan aset kripto dalam satu aplikasi.
FAQ Seputar Bear Market
Apa arti bear market dalam bahasa Indonesia?
Bear market secara harfiah berarti “pasar beruang”. Istilah ini merujuk pada fase ketika harga aset turun secara luas dan berkelanjutan, disertai sentimen investor yang pesimistis. Kebalikannya adalah bull market, yaitu fase ketika harga cenderung naik.
Apa bedanya bearish dan bear market?
Bearish adalah pandangan atau sentimen bahwa harga akan turun, dan bisa berlaku untuk jangka pendek maupun pada satu aset tertentu. Bear market menggambarkan kondisi pasar secara keseluruhan yang sudah berada dalam tren turun berkepanjangan. Seorang investor bisa bersikap bearish terhadap satu aset meski pasar secara umum belum memasuki bear market.
Berapa lama bear market kripto biasanya berlangsung?
Tidak ada durasi yang pasti. Pada siklus 2021–2022, Bitcoin membutuhkan sekitar satu tahun untuk turun dari puncaknya pada November 2021 hingga titik terendahnya pada November 2022. Setiap bear market dipicu kondisi yang berbeda, sehingga durasinya tidak dapat dijadikan patokan untuk siklus berikutnya.
Apakah bear market selalu diikuti bull market?
Secara historis, pasar saham maupun pasar kripto pernah pulih setelah bear market. Namun, tidak ada jaminan kapan pemulihan terjadi dan seberapa kuat kenaikannya. Sebagian aset individual bahkan tidak pernah kembali ke harga puncaknya.
Apakah boleh berinvestasi aset kripto saat bear market?
Keputusan tersebut bergantung pada tujuan keuangan, jangka waktu, dan toleransi risiko masing-masing investor. Harga yang lebih rendah tidak otomatis berarti risikonya lebih kecil. Gunakan dana yang siap Anda tanggung risikonya, hindari dana pinjaman, dan pastikan bertransaksi di platform yang berizin dan diawasi OJK.




